Sumbawa

Berkat Dana Desa, Warga Desa Labuhan Ijuk Dapat Nikmati Fasilitas Umum

Pemanfaatan dana desa Tahun 2017 untuk betonisasi jalan di Desa Labuhan Ijuk, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (11/9). Foto: Wening/Kemendes PDTT

BETVNEWS,- Sejak Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonsia menggulirkan dana desa ke Desa Labuhan Ijuk Kecamatan Moyohilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa yang dahulunya minim fasilitas umum, saat ini telah berhasil membangun infrastruktur  yang selama ini diidam-idamkan warganya, mulai dari jalan, talud pantai, rabat beton, dan MCK.

“Setelah ada dana desa dari pusat, kami bisa menata desa kami dengan baik. Sehingga pekarangan rumah warga 90 persen sudah tidak masuk air lagi kalau air pasang. Kemudian kami juga sudah bis menata dan mempercantik desa kami,” ungkap Sekretaris Desa Labuhan Ijuk, Bustanil.

Bustanil berharap, dana desa suatu saat dapat digunakan untuk mendorong pengelolaan hasil tangkap warga, seperti halnya untuk penyediaan sarana pasca panen. Sebab saat ini, dana desa Labuhan Ijuk masih fokus memenuhi kebutuhan infrastruktur.

“Kami berharap agar dana desa jangan sampai berhenti. Agar kami ke depannya bisa merasakan sedikit pembudidayaan dari olahan ikan. Karen masih banyak sekali alat nelayan dan pengolahan yang kami butuhkan di desa ini. Karena kalau lagi banjir ikan, ikan sampai kita buang-buang. Dan masih keterbatasan SDM (Sumber Daya Manusia) juga,” ujarnya.

Sebanyak 80 persen warga Desa Labuhan Ijuk, lanjutnya, berprofesi sebagai nelayan. Mereka biasa berangkat melaut sore dan pulang pagi hari membawa hasil tangkapan. Hasil tangkapan ini kemudian langsung dijual ke pasar dan pengepul.

“Ikan di Desa ini terkenal paling enak karena dijamin segar. Ikan yang ditangkap langsung dijual, tidak sampai bermalam. Kami juga tidak ada yang menggunakan bom ataupun potasium. Malah kami minta kepada pemerintah, tolong Pulau Dangar itu diamankan dari potasium dan pengeboman. Karena secara turun temurun, di situlah kami mencari ikan,” ujarnya.

Menurutnya, potensi ikan dan pariwisata di desanya sebenarnya bisa dikembangkan menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun menurutnya, hal tersebut terkendala dengan minimnya fasilitas komunikasi dan internet di desanya. Sehingga pertukaran informasi dan promosi masih sulit dilakukan.

“Kami sulit ekspos karena sinyal tidak ada. Sinyal HP (hanphone) tidak ada apalagi internet. Harus ke kota dulu baru bisa dapat sinyal. Sedangkan untuk membuat profil desa saja harus menginap beberapa hari di Sumbawa,” ujarnya.

(Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *