Jakarta

Dana Desa Antisipasi Potensi Kemiskinan di Kota

Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Anwar Sanusi, Ph.D, saat memberikan sambutannya usai penandatanganan MoU antara Kemendes PDTT dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat.

BETVNEWS,- Sejak digulirkannya dana desa, tak hanya untuk mengatasi persoalan kemiskinan di desa. Namun, program ini juga mengantisipasi potensi peningkatan angka kemiskinan di kota.

Hal tersebut, dikatakan Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Sekjen Kemendes PDTT) Anwar Sanusi. Usai penandatanganan MoU antara Kemendes PDTT dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten di Kantor Kemendes PDTT, Jakarta, Kamis (30/8).

“Potret urbanisasi, data dari statistik, sebanyak 1,2 persen setiap tahun. Sehingga kalau tidak ada intervensi konkret, tahun 2045 kita bisa estimasikan bahwa orang yang akan tinggal di desa hanya tinggal 35 persen,” ujarnya.

Ia mengatakan, masyarakat desa yang melakukan urbanisasi tersebut mengadu nasib ke kota dengan bekal pengetahuan yang minim. Hal tersebut menurutnya, akan berpotensi menambah jumlah angka kemiskinan di kota.

“Menurut saya, dihadirkannya Undang-Undang Desa, kemudian dengan disalurkannya dana desa adalah upaya optimal untuk mengubah potret dan stigma negatif tentang desa. Kita buktikan bahwa desa adalah wilayah penuh harapan. Sehingga yang awalnya orang ingin ke kota, suatu saat justru orang kota yang ingin pergi ke desa,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah dana desa yang bergulir sejak tahun 2015 tak sedikit, tahun 2015 sebesar Rp20 Triliun, tahun 2016 sebesar Rp 46,9 Triliun, Tahun 2017 sebesar Rp 60 Triliun, Tahun 2018 sebesar Rp 60 Triliun. Rencananya, dana desa tahun 2019 akan meningkat menjadi Rp 73 Triliun.

“Tahun depan dana desa akan ditingkatkan menjadi Rp 73 Triliun. Dengan begitu, dana desa yang digulirkan selama 5 tahun jumlahnya cukup besar yakni Rp 260 Triliun,” ungkapnya.

Ia meyakini, dana desa mampu memberikan perubahan wajah yang konkret bagi desa. Menurut dia, dana desa akan mampu mengubah stigma desa yang dianggap sebagai daerah miskin.

“Suatu saat, (kalimat) wong ndeso (orang desa) akan menjadi atribut yang Prestigious (bergengsi). Kalau sekarang, ‘alah wong ndeso’, suatu saat akan berbaik, ‘alah wong kuto (orang kota),” candanya.

(Release)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *