Pemerintahan

Yang Unik di Lebong Bagian 1 : Rosjonsyah, Bupati Nyentrik

BETVNEWS – Begitu menginjakkan kaki, ada banyak hal unik yang ingin saya ceritakan di Kabupaten lebong ini, Kabupaten yang bersedia menganggarkan dana APBD untuk kegiatan HPN 2018 tingkat provinsi. Dan karena itulah saya bisa berada di bumi Swarang Patang Stumang ini dari tanggal 24-29 april 2018, karena dipercayakan teman-teman PWI provinsi Bengkulu menjadi ketua panitia.
Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Rejang Lebong ini tak terasa sudah berusia 14 tahun. Usia remaja, namun pembangunan infrastruktur layanan publik sudah terlihat jelas. Salah satunya yang saya kagumi adalah masjid agungnya. Namun, di episode pertama ini bukan tentang masjid yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan tentang sosok “Nyentrik” sang bupati, H.  Rosjonsyah Syahili S.IP, M.Si. Pria kelahiran Lahat 54 tahun silam ini merupakan putra ketua presidium pemekaran Kabupaten lebong, H. Syahili.
Pertama kali bertemu dengan pria yg lebih dikenal masyarakatnya dengan sebutan Jon Walet ini saat pelantikan pertama menjadi Bupati Lebong periode 2010-2015. Saat itu saya sudah melihat hal nyentrik dari bupati ini yang menggelitik saya untuk menulis cerita tentangnya, namun keterbatasan waktu membuat niat itu tertunda. Saat mengetahui Bang Jon (begitu saya memanggilnya) kembali terpilih menjadi bupati Lebong kedua kalinya, niat itu kembali menggelitik saya. Akhirnya, kemaren bersama dengan Dirut Bengkulu Ekspress Media Group (BEMH), Sukatno, kami diajak ngobrol panjang lebar di ruang kerjanya. Kesan saya buat mantan preman ini, senyum yang selalu terkembang, santai,  humoris, dan berjiwa entertain tinggi.
“Lebih baik mantan preman dari pada mantan orang baik, tok,” ujar Rosjonsyah sambil tersenyum lebar saat kusentil sebagai mantan preman, yang memang sekarang penampilannya lebih agamis.
Hal pertama yang ingin saya ketahui adalah soal menentukan wakil, karna wakil bupati yang mendampinginya baik periode pertama maupun periode kedua bukanlah orang yang memiliki nilai jual dalam hal popularitas.
“Kuncinya adalah petunjuk Allah melalui istikharah, di periode pertama saya juga kaget, karna muncul wajah Panca saat istikharah. Dalam hati saya juga heran kenapa wajah dia, apa istimewanya dia. Tapi kata bapak saya, yakinlah itu petunjuk Allah dan pasangan yang terbaik. Keheranan saya itu akhirnya terjawab saat kampanye, dimana saat orasi, dengan kepolosannya panca mampu membuat ribuan orang menangis. Begitu juga dengan pasangan di periode kedua ini, wajah yang muncul saat istikharah adalah wajah Wawan, Alhamdulillah kembali dipercaya masyarakat, “papar Rosjonsyah.
Yang unik buat saya adalah kebijakan yang dibuat Bang Jon dalam hal memilih kepala dinas.
“Wajib hukumnya setiap kepala dinas muslim bisa mengaji dan menyanyi,” ungkap bang jon.
Nah,  lho…… Bisa mengaji okelah, tapi bisa menyanyi? Apa hubungannya pikirku. Menurut bang jon, Kepala dinas itu pemimpin di dinasnya, karna itu butuh orang yang beriman, dan kemampuan mengaji setidaknya dasar keimanannya. Tapi selain beriman, pemimpin itu harus memiliki jiwa seni dalam leadership.
“Karna itu, saya sering mengadakan kegiatan bernyanyi. Dengan bernyanyi pikiran menjadi rileks, tidak tegang. Pemimpin kalau bawaannya tegang,  kaku, susah diikuti bawahan,” jelas Bang Jon.
Hhhmmm,,, Masuk akal, tapi apakah itu sebenarnya jawaban? Entahlah, Tapi ide itu dan gaya kepemimpinan itu buatku Nyentrik.
Malam pembukaan dan malam penutupan HPN 2018 di Lebong, Bang Jon memang menunjukkan kemampuannya bernyanyi, pop dia piawai, dangdut jago, lagu mandarinpun fasih.
Bersambung…
(Catatan Perjalanan HPN 2018)
Penulis : Susanto, General Manajer BETV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *